Dua Pekan dalam hening
Dalam waktu yang singkat, dunia serasa kosong, lengang, serasa lorong-lorong terlalu luas untuk dilintasi. Semua diam, dingin, dan teramat sepi dalam merdu siulan hembusan angin. Paradoks realita, rengkuhan sepi dalam hiruk pikuk megapolitan. Perjalanan hidup berlalu merenggut separuh daging hitam dalam kungkungan raga. Melati begitu hambar dalam derap laju transfusi senyawa-senyawa berbau kegalauan. Pekik gagak parau memecah hening malam kebimbangan atas sesuatu yang mengedor-gedor dalam lubuk yang tak bertuan. Mayang yang melingkar disela pundak dan kepala menghitam, layu, memudar keindahannya.Purnama ke purnama terus berpendar, jelantik tetap memandu kafilah dalam remang malam.
Rona merah kian menguning dalam terbit binar mentari, kini harapanku kembali tertata, menjulang, meninggi menggapai keluasan jagat raya. Semerbak bau malam, bau hujan, dan bau kerinduan akan kematian tersapu, melambai bak surai-surai dandelion diterjang badai. Seorang kesatria tersadar dari tiap tanya, dan rangkaian tangkai-tangkai kata terujar “bisik desir angin dan belaian cangkang buana terkadang lebih fasih dalam berkisah tentang dendam dan cinta. Dengar, lihat, dan rasakan kehidupan seutuhnya, maka banyak hal yang akan kita temukan di balik kabut tebal berwarna hitam dan putih, di sela-sela remang dan hiruk-pikuk zaman. Ya.., inilah kehidupan, untuk mengenalnya lebih dalam tidaklah dengan terdiam dan menunggu.” dan kebahagiaan itu teruntai dalam bait cintanya “Bagiku rembulan dan mentari tiada lagi berbeda, pertukaran sinestesi telah lama terjadi. Suka dan cinta layaknya perseteruan antara luka dan kematian. Semua seperti akulturasi warna-warna, semua sama saja! Bukan, bukan karena aku telah berputus asa pada merah mudanya dunia, tetapi kini aku telah menemukan kekasihku, engkau, engkau yang ku yakini sebagai teman hidupku selamanya. Dalam gelap malam telah kupinang engkau pada Tuhan, dan Tuhan telah mengizinkannya bagiku dengan keyakinan dalam HaTIku. Tenang lah sayangku, bila hitler mendamba kematian dalam dekap istri tercintanya, akupun akan memohon kematian dalam rengkuhan dan belaianmu. Untukmu, kekasihku, engkau yang namamu teramat indah ‘Da’wah lil istinafil hayatil islam’.” (land)
May 2, 2008 at 11:02 am
maaf ya,,,, cuma ikutan nimbrung dikit. wah puisi cintanya dah di edit ya? kalau kaya gitu ya ga ada yang bakal salah sangka…. sekali lagi maaf