Archive for May, 2008
Kembali Lagi!
Posted in Uncategorized with tags Add new tag, kembali, pemimpin, prihatin on May 9, 2008 by jakabadung1924Chatting
Posted in bakar! with tags akhirat, Allah, iman, mati, qiyam on May 5, 2008 by jakabadung1924Kadang-kadang saya juga bosen kalo terus merhatiin dosen kalo lagi kuliah. Apalagi yang bikin mata jadi perih. Ga, deeh! Sekali-kali berbuat ”maksiat” ga papa kali ya he…3x. Keahlian iseng saya muncul sadenli (ga ngerti ya!? Ya, saya maklum kalo otak kita emang terbatas). Saya nawarin mo wawancara dikit ma temen di pinggir. Kumbang, bukan nama sebenarnya (kaya kriminil yang diwawancarai). Eh ternyata dia juga lagi bosen dan mengatakan, DEAL!!
Saya: ”Kamu percaya, bahwa kehidupan setelah mati tu ga ada?”
Kumbang: ”Saya percaya ada kehidupan setelah mati, jadi menolak statement anda!”
Saya: ”Seberapa yakin, en apa yang bisa bikin kamu yakin?”
Kumbang: ”Seratus %, karena hal itu ada di Al-qur’an (maaf kurang paham surat dan ayatnya)”
[berarti masih ngeraba-raba nih! Seratus % ko ga tau yang bikin yakinnya di mana. Untung saya juga Islam, jadi percaya ajah deh .^_^.]
Saya: ”Kalo gitu kamu ngerasa takut mati ga?”
Kumbang: ”Kenapa takut mati? Hal yang sudah pasti terjadi tidak selayaknya di takuti tapi lebih pada dipersiapkan”.
[oooh, gitu ya!? Padahal kalo ditawarin buat ke Palestin, Iraq atau Afganistan buat berjuang, paling-paling mikir dulu 1000x. Selalu ada alasan untuk memilih yang menyenangkan]
Saya: ”Wah…salut, keren bangets! Terus apa kamu udah ngerasa siap?”
Kumbang: ”Itu yang jadi masalah, masih banyak yang harus dipersiapkan”
[tuh, kan! Apa saya bilang. Selalu ada alasan buat milih yang menyenangkan!]
Saya: ”kalo gitu, kira-kira butuh berapa lama?”
Kumbang: ”Butuh waktu sisa usia hidup (sebelum dipanggil Allah)”
[uwihhh…, bahasanya itu looh, ga nahaaan…DIPLOMATIS]
Saya: ”Saya ngerti, tapi itu berapa lama?”
[saya Cuma ngetes, siapa tau aja dia dah tau kapan mo mati]
Kumbang: ”karena saya tidak mengetahui kapan saya dipanggil Allah, maka selama saya masih diberi kesempatan hidup, selama itulah persiapan untuk kehidupan sesudah mati saya persiapkan.”
Saya: ”kalo saya tanya, mana yang gambarin diri kamu, takut neraka or pengen masuk surga?”
Kumbang: ”keduanya ada pada diri saya. Tapi lebih ngarep surga karena secara asalnya semua manusia berasal dari surga”
[dong, deng, saya jadi bingung, apa iya ya saya pernah di surga? sudah lupa tuch]
Saya: ”kalo gitu, kamu pernah netesin air mata karna takut neraka? Apa kamu pernah merintih merayu pengen surga? Coba kapan terakhir kali kamu nangis khawatir nggak diterimanya amal ibadah kamu? (ihh… pertanyaan, apa kereta?)
Kumbang: ”jawabnya susah nie…”
Kumbang lagi: ”keduanya pernah, kalo ditanya waktunya kapan, udah lupa!”
(idiih, pasti sering banget sampe ga bisa di itung. he…3x)
Saya: ”Wah, saya jadi ragu kalo kamu tu yakin bakal ada kehidupan setelah mati!”
Saya lagi: ”kalo lagi solat, kamu ngerti ga apa yang kamu baca?”
Kumbang: ”yang menjadikan keyakinan kehidupan setelah mati juga adalah keimanan. Yaitu iman kepada hari akhir. Sedangkan kadar keimanan seseorang itu berfluktuasi naik kadang turun.”
Kumbang lagi: ”saat solat yang diucapkan adalah dzikir dan doa. Dengan tata cara dan lafal yang sudah ditetapkan.”
[pertanyaan saya yang aneh apa dia yang ga ngerti ya? Ko jawabnya gitu! Seterah kau, lah!]
Saya: ”iya, saya juga tau. Malahan kucing saya juga, eh, tau ga ya?! Tapi artinya kamu ngerti ga?”
Kumbang: ”Artinya dalam satu rakaat penuh pernah saya baca artinya! Tentang pahamnya, saya paham tapi kadarnya yang masih rendah.”
[waih…saya jadi tambah binun?#@!]
Saya: ”Emang kamu baru belajar solat ya?”
Kumbang: ”sebagai manusia, belajar itu dari timangan sampai liang lahat!”
[kayaknya, maksud hadis itu, ga gitu deh!]
Saya: ”Trus bisanya kapan kalo kadarnya (kebawa jadi tukang jualan emas) belajar terus?”
Kumbang: ”Sebenarnya bisa, tapi kadar bisanya yang masih rendah hingga harus terus belajar”
Saya: ”Kamu mau sorganya yang berapa persen?” [padahal yakinnya katanya 100%!
Tapi kadar ibadahnya masih pada rendah.Gimana,nih!]
Kumbang: ”Saya pengen sorga dengan kadar penuh!”
[waduh, 24 karat kalee!]
Saya: ”Kamu mikir ga sih! Solat aja kadarnya ga penuh mau sorga kadarnya full. Apa kata dunia?”
Saya lagi: ”Pertanyaan terakhir. Kamu tau ga! Bahwa nanti, manusia dibangkitkan, dia akan dibangkitkan sama seperti saat dia pergi meninggalkan dunia! Yang lagi judi, ya lagi judi, yang lagi mabok, ya lagi mabok de el el. Kamu, mau dibangkitkan lagi ngapain?”
Kumbang: ”Saya ingin mendapatkan khusnul khotimah (akhir kehidupan yang baik) saya ingin saat mati saya berada pada mengingat Allah dan menyebut/ menyucikan asma-Nya atau saya ingin mati dalam keadaan solat!”
[hmm, good hope]
————————————-
Itulah catatan hasil ”maksiat” saya. Malemnya saya pengen mastiin keadaan orang yang cita-citanya pengen mati lagi solat. Jam 02.00 saya es-em-es-in
”Aku kan mencabut nyawamu malam ini, maka apa yang sedang kamu lakukan. Solatlah atau kamu mati dalam keadaan tidur & lalai dari mengingat Allah! Apakah itu yang kamu inginkan?”
saya tungguin ko ga dibales-bales padahal saya ngarep es-em-es itu dibales kaya gini
”Saya sudah siap menghadap Allah SWT”
tapi gimana, ya… Setannya kuat banget sih, sampe solat subuhnya juga kayanya kesiangan! [land]
SURADIRAJAYADININGRAT LEBUR DENING PANGESTUTI
Posted in bakar! with tags apatis, diam, egois, ideologi, kapitalisme, mati rasa, pragmatis on May 5, 2008 by jakabadung1924Hari selasa pas kuliah sesi III, lagi pusing-pusingnya kepala, saya iseng-iseng nulis. Biasa, dengan cita rasa yang selalu memprovokasi. Gini tulisannya :
Layaknya kita terpenjara dalam rumah sendiri hingga kita tak mampu merasakan kebebasan bernafas di alam bebas. Jeruji dan teralis yang membatasi, dibangun oleh orang-orang yang kita percayai.
Caci maki yang mana lagi yang harus aku keluarkan hingga telinga-telinga mereka yang lebar mau mendengar. Atau, otak mereka sudah pindah ke dengkul hingga tak mampu lagi berfikir bersih.
Hati mereka sudah tertutup dengan nikmatnya kekuasaan, hingga tak mampu lagi meneteskan air mata haru ketika anak2 mereka dikuliti peradaban, istri mereka diperkosa oleh kebudayaan…
OHH… IDEOLOGI MACAM APAKAH INI!!!
Saya palingkan muka, ada temen yang paling dekat dengan tempat saya duduk. Saya bilang “tolong beri komentar!”
“ga tau ah mas, saya lagi pusing!”jawabnya,
trus dia kasih ke orang yang ada disampingnya, dia menulis
Ehm……..buh ding???
SURADIRAJAYADININGRAT LEBUR DENING PANGESTUTI.
Saya ambil lagi kertas itu dan saya tambahi kalimat selanjutnya :
Mengapakah kita yang diberi akal untuk berfikir, tidak mau bergerak!! Sungguh dengan berdiam diri saja berarti dengan senang hati kita digiring menuju kehancuran. Saya akhiri tulisan itu.
Komentar yang bertambah :
Masa sih? Katanya ada peribahasa “diam itu emas??”
Ahh…yang bener…puitis banget sih…
Cocok lho jadi penyair…
Emangnya ud taw mo gerak ke mana, jgn malah gerak tp k arah yang salah, coz ga punya cukup info,,,btw tulisannya ojo ruwet2 tha!
Maksud lhoeee?????
Penting yaa??!!!
455 hole !!!
Saya mentertawakan diri sendiri karena kebodohan dan kelemahan saya, ternyata orang-orang yang dekat dengan saya begitu pragmatis dan cenderung, nauddzubillah, mati rasa dan egois. Itulah bukti bahwa perasaan mereka sangat jauh dengan pemikirannya. Atau bahkan sudah tak peduli dengan urusan orang lain, karena dinina-bobokan dengan kepastian masa depan sebagai seorang calon pegawai. Astagfirullah, saya benar benar memohon ampunan atas apa yang telah saya lakukan dimasa yang lalu. [land]
INTERMEZZO
Posted in bakar! with tags ideologi, kapitalis, negeri on May 5, 2008 by jakabadung1924Pikiran penat ditemani mata perih yang kian memerah, kebanyakan begadang. Wajar saja pada akhirnya badan kurus tinggal iga-iga yang merajuk meradang. Bukan, bukan karena tak ada uang aku tak makan tapi rasa muak yang ada pada kehidupan. Bosan.
Coba perhatikan, hidup manusia kini layaknya barang tak berguna. Cuma bisa makan, tidur, hura-hura, dan boker .ya memang ada juga yang memuja tuhan, tapi kebanyakan mereka cuma takut akan cacian bukan tuhan.
Aku , kurus bukan sembarang kurus, bahkan anjing pun takkan nafsu melihat tulangku. Tulang-tulangku kini tengah berkarat, dengan karat peradaban. Aku tak pernah risau dengan tulang-tulang yang mengintip dari balik hamparan kulit yang menghitam. Aku tahu yang lebih menyedihkan, kadang aku kasihan, mereka korban ”kekuasaan yang tidak pernah belajar kesopanan”. Kau pernah dengar nyanyian lama ini ”Masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi” hambar kini terdengar. Layaknya serapah yang tak berarti. Negri yang diisi lautan kekayaan layaknya kandang kuda yang tak pernah ternikmati. Aku mati.bukan jasadku yang mati tapi otak ku, hati ku dan anu ku (pemikiran ku).
Akan kuceritakan siapa yang paling serakah yang memakan habis harta negriku. Ya, dia, dia yang kau kenal KAPITALISME. Hingga tulang-tulang yang berserakan yang kau lihat di pinggir jalan hanya makan sisa muntahannya. Kasar memang tapi itulah kenyataan. Yang dulu kuanggap sahabat, ku senandungkan harap , kini dia juga sudah mati bahkan lebih mengenaskan. Demokrasi-oh demokrasi. Aku sudah mengira rentan dan sakit yang ada dalam tubuhmu. Dulu aku berharap pada ajakanmu ”dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”atau apalah…yang aku tau, semua untukmu wahai para dewa yang lapar, para pemilik modal. Sudah lama aku kecewa dengan mu sobat lama tapi pembisik-pembisik ku yang bodoh terus berkata ”masih ada harapan kalo kita mau”. Dan aku lebih bodoh, karena percaya. Mereka terus berkata walau demokrasi sudah diusung dalam keranda. IRONIS! Bagai yang tak bisa berpikir, kita berharap pada sampah-sampah peradaban. Kapan tulang-tulang itu akan berdiri? Apakah setelah aku mati? Atau tak akan terjadi!?
Akal nakalku bertanya, orang bodoh pasti percaya kalau ekor akan berjalan lebih dulu dari kepala! Tunjukkan padaku wahai penyihir kata! AKU MENANTANG MU!!! Aku juga ragu negri ini jaya, karena cuma bisa jadi ekor dan ga pernah mau jadi kepala.
Sial benar, setiap pagi aku harus dicekoki wajah sendu korban janji kapialisme dan demokrasi.
Bodohnya lagi, mereka kenyang hanya dengan makan harapan.
Aku sudah bosan, apa satu-satunya jalan adalah mati!??…
(gelap,23 nov, jakarta)
[land]
