reality show

Coba, coba. Perhatiin, berita 23 maret 2008 di seputar Indonesia. Di jambi, ada 14 orang keracunan minuman keras 11 orang mampuz n’ 3 sisanya masi dikasi kesempatan tobad. Berita yang saya pikir satu hal yang lucu dan memalukan. Polisi mengindikasikan mereka keracunan minuman keras produk lokal. Mau tau mereknya? Ah Tanya ajah ma yang dah jadi korban! He he he

Belakangan ini adalagi kasus yang sama. Dasar manusia, diberi akal sudah! Tapi ga pernah mau belajar. Apa kata dunia!?

Pas saya liat beritanya, saya ketawa dan spontan bilang kata-kata yang sempet dipopulerkan ma anak-anak extravaganza, baguuus! TRAGIS!! Inilah fakta, inilah keniscayaan yang akan terjadi seandainya pemerintah membiarkan rakyatnya dalam kemaksiatan. Inilah salah satu hikmah ketika islam membuat larangan. Muncunya berbagai penyakit menular sexual, penyakit-penyakit baru yang belum ada obatnya atau kembalinya penyakit lama seperti polio, busung lapar, diare, de el el. Semua itu merupakan hal dengan penyebab yang sama. Yaitu tidak ditunaikannya amanah penentu kebijakan. Oya, ceritanya saya mau nyeritain “reality show” bukan mamaia show apalagi superdut dat dit dut. Potongan kisah dari fakta kehidupan yang ada saat ini. Ada orang “kreatif” yang luar biasa saking kreatifnya, saya lebih suka kalo bilang dia termasuk kategori orang yang BENGA! Sorang pimpinan di xxx di negeri xxx, bapak yang satu ini bilang “Daeng basse dan anaknya meninggal bukan karena kelaparan, tapi karena diare.” kreatif, kan?! Yang jadi pertanyaan saya, trus kok bisa kena diare? Pertanyaan retoris yang sebetulnya saya gaperlu jawaban karena saya udah tau jawabannya. Waktu saya liat tayangan berita ini, sekitar tanggal 20 februari lalu. Saya ngeliat sepiring nasi yang kesorot kamera (mungkin juga disengaja, ding!) udah agak basah berlendir. Tetangganya yang juga penampilannya “invalid” maaf bukan maksud saya menghinakan, tapi kondisinya memang sama, memprihatinkan! Ibu itu bilang kalo keluarga daeng basse memakan nasi yang udah beberapa kali dimasak (recycle) kren ya! di negeri yang pernah dapat predikat swasembada beras ini, nasinya didaur ulang. Kalo boleh saya ngutip perkataan om-om seputar indonesa pagi ”Buka mata, ini nyata, hanya di endonesa” he he he. Inilah fakta yang kita hadapi!

Sekarang kita coba liat kish khalifah Umar bin Khattab. “Suatu malam ketika beliau melakukan sidak (misi ah, barudak) eh maaf inspeksi mendadak, maksud saya. Inget bukan infeksi ya! Hmmm. Beliau mendengar tangisan dari seorang anak kecil, kemudian beliau menghampirinya, dan berkata pada si Ibu, “Tidurkanlah anakmu.” Sesaat kemudian beliau mendengar lagi tangisan itu, dan berkata lagi, “Tidurkanlah anakmu.” Kemudian untuk ketiga kalinya beliau mendengar tangisan itu lagi, dan beliaupun berkata lagi ”Tidurkanlah anakmu. Sesungguhnya engkau adalah seorang Ibu yang buruk, tidurkanlah anakmu.” Ibu tersebut lantas membalas perkataan itu, “Tinggalkanlah aku, sesungguhnya umar hanya memberi nafkahbelanja bagi anak-anak yang telah disapih, aku ingin menyapih anakku.”

Mendengar perkataan itu lantas khalifah Umar menangis lalu pergi menuju mesjid. Ketika itu waktu shalat subuh telah tiba dan umar telah berada di mesjid. Orang-orang yang berada di mesjid berkata, “Demi Alloh, kami tidak faham apa yang ia baca lantaran banyaknya ia menangis.” Ketika Umar usai membaca, orang tersebut berkata, “wahai Umar, celakalah engkau pada hari kiamat kelak, Berapa banyak anak-anak kaum muslimin yang telah engkau bunuh? Umar lalu menjawab, “Wahai sekalian manusia! Demi Alloh, mulai saat ini janganlah kalian terburu-buru menyapih anak-anak kalian. Sesungguhnya aku akan memberi belanja bagi setiap anak yang dilahirkan, hingga aku tidak ditanya dihadapan Robbku pada hari kiamat kelak!” lantas dimanakan Umar zaman ini, yang mau bertanggung jawab atas amanah kepemimpinannya, dimanakah mereka?! Dan sampai kapan semua ini akan terus terjadi?! Sampai kapan?! [jakabadung : disaat harapa itu begitu tinggi]

Leave a Reply