Semua Karena Cinta

Hari ini hidup telah mengajariku cinta, sesuatu yang banyak dicari,
namun sedikit sekali yang menemukannya. Ah, rasanya aku jadi terlalu melankoli
untuk ukuran seorang lelaki. Untung saja diantara kalian tak ada yang tahu
siapa aku. Jadi, lepas saja kuekspresikan diri.

Sungguh, betapa bahagia orang yang dalam jiwanya tertanam cinta.
Bersama cintanya ia bisa tegak berdiri menatap mentari, dengan cintanya ia
dapat menyinari jiwa-jiwa yang tak tersentuh cahaya, karena cintanya ia tak
lagi pesimis menjalani kehidupan skeptis, dan karena cintanya pula ia memiliki
alasan untuk hidup. Iri aku. Ingin juga kutumpahkan gejolak cinta ini. Tapi
pada siapa. Kamu? Kamu? Atau dia? Ah, rasanya tak ada yang pantas untuk
kucintai. Sudah terlalu banyak kutelan kecewa. Nuraniku berontak bila
menyandarkan cinta pada yang rapuh. Jika kupaksakan, tentu nuraniku lagi-lagi
terkoyak. Aku tak mau. Lalu, harus kulabuhkan pada siapa cinta ini? Aku
bingung.

Haruskah ku menggadaikan cinta ini untuk kesenangan dan menghambakan
jiwa pada harta. Jika begitu, apa
bedanya aku dengan seorang atheis yang diperbudak materialistis? Aku kan orang yang bertuhan.
Oya, mungkin seharusnya kuserahkan saja pada manusia. Toh, mereka ada di
sekitarku dan membantuku, walau hanya pada saat tertentu. Tapi, bukankah mereka
mahluk kecil yang sama sepertiku? Ah, tak sepantasnya mereka menerima cintaku
yang besar ini. Suatu saat, mereka mungkin menghianati cintaku. Aku butuh untuk
selalu dicintai, aku ingin ada yang melindungi setiap saat, aku rindu akan itu
semua.

Ah, aku tak terlalu yakin.

Bermil-mil sudah kutapaki, melewati jalan penuh onak dan duri untuk
mencari cinta sejati. Sudah tak kupedulikan lagi berapa waktu berlalu. Berbagai
cobaan pun telah kulewati. Namun, dimanakah kau cinta? Aku disini mencarimu,
mendambamu. Apakah kau mendengar? Apakah kau merasa? Sepertinya Cintaku sedang
menggodaku, aku tahu itu. Ah, tak ada guna ku berburuk sangka. Kulanjutkan saja
langkah gontaiku, walau terbata-bata terus kucoba susuri lorong kehidupan.
Sedikit demi sedikit terkuaklah wajah kehidupan, bahwa kini berjuta jiwa hidup
dalam kematian karena mencinta pada yang rapuh, bahwa kini berjuta manusia
salah mengambil langkah dengan menghamba pada selain-Nya. Miris sekali.
Beruntunglah aku! Tidak sampai terjerembab ke kubangan lumpur kesesatan. Terima
kasih Duhai Cintaku, karena Engkau telah
mengirimkan juru selamat yang menunjukkannku kebenaran. Maka, sudah
sepantasnyalah aku memberikan jiwa dan cinta ini hanya untuk-Nya.

Lewat tulisan ini, akan kutulis ungkapan hati untuk Cintaku:

Jika bintang tak lagi berpendar, tentu sudah lama cinta tak bercahaya.
Jika bumi sudah berhenti berotasi, kan
kubawa kemana cinta ini. Ah, mengapa harus kubela cinta? Tak ada yang tahu
selain egoku, kadang logika tak lagi jadi ukuran. Hati yang bermain disini.
Walau keyakinan ini begitu memberatkan, aku senang bisa sejauh ini membela
Cintaku. Apalagi jika kelak aku mati ketika memperjuangkan-Mu, Duhai Cintaku,
Sang Maha Pemberi Cinta. Tentunya aku akan bangga dan bahagia, karena mendapat
akhir termulia para pecinta sejati. Ya Allah…, Duhai Cintaku, jangan biarkan
hati ini berpaling dari-Mu walau sedetik, tetapkanlah aku untuk selalu berada
di jalan-Mu dan kembalikanlah kemuliaan Umat Islam agar kembali menjadi Umat
Terbaik di bumi fana ini. Aku percaya janji-Mu akan terwujud. Maka,
perkenankanlah diri ini agar bisa merasakan kemenangan dengan tegaknya kembali
Daulah Khilafah Islamiyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.