HIJRAH Asas Pembentukan Masyarakat Baru
Sejarah HIjrah
Juma’at pagi 16 Robiul Awal tahun ke-13 Bi’tsah, ada yang berbeda di tanah Yastrib. Sebagaiman yang biasa mereka lakukan beberapa hari belakangan, semenjak mendengar keberangkatan Rosulullah saw dari makkah, banyak kaum Anshar yang berkerumun dan berdiri berjajar-jajar di pinggiran kota menunggu-nunggu kedatangan Beliau saw. Pada tengah hari disaat udara sedang panas-panasnya, ketika mereka sudah hampir putus harapan menantikan kedatangan beliau dan banyak pula yang mulai hendak pulang ke rumah masing-masing; seorang Yahudi yang sedang naik ke atap rumahnya untuk satu keperluan tiba-tiba melihat bayangan Rosulullah saw bersama sahabatnya di tengah alunan fatamorgana. Makin lama makin dekat menuju ke arah kota Madinah, tanah air Islam yang baru. Ia berteriak dengan suara yang amat keras: “Hai bani Qailah…itulah dia sahabat kalian telah tiba…itulah dia datuk kalian yang kalian tunggu-tunggu kedatangannya!” (fiqhus sirah, Muhammad al-ghazali: 294). Hari itu adalah hari pertama Rosulullah saw memijakkan kaki beliau di tanah itu. Keramaian suara takbir dan lantunan shalawat menggempita menyambut kedatangan Beliau saw. Sebuah sejarah panjang perjalanan yang melegenda, HIJRAH. Benar sobat, betapa luar biasa sejarah hijrah Rosulullah saw dan sahabat muhajirin. Bayangkan, perjalanan melintasi gurun yang melelahkan raksasa-raksa kafilah dagang Makkah ditempuh orang-orang yang terancam, tertekan, dan kelaparan. Untuk apa sobat?! Untuk menjemput riedha Alloh saja! Meninggalkan harta, keluarga, dan cinta… (He he agak lebay getoh…) tapi serius lho, kisah ini nyata tanpa keraguan dan rekayasa. Tujuh belas tahun kemudian, khalifah Umar bin Khattab (seventeen-an. He he, gak… ding) sang inspirator ummat Muhammad saw mengukir perjalanan sejarah hijrah menjadi titik tolak (intilaq) penanggalan ummat Islam. Dan sampai saat ini terus digunakan sebagai awal tahun penanggalan ummat Islam, 1 Muharram. Tidak terasa, sudah 1431 H lagi, ya?!…kalo jawaban kamu iya, berarti emang kamu termasuk yang ga perhatian dengan Islam .
Oke kita lanjut, apa sih sebenarnya makna hijrah ato hijriah? Para fuqaha mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari Darul Kufur menujun Darul Islam. Ops, kamu pasti nanya apa sih Darul Kufur, apa sih Darul Islam? Menurut pandangan mba husna dan mba bintun… KCB bgt ya?! he he. Tenang, oye bakal kasih tau kamu secara ringkas dan jelas. Oye juga mau menjawab makna Darul Islam dan Darul Kufur dengan puisi seperti mba husna. He he he
Dalam kitab Syakhsiyah (apa pula ini? telen dulu aja ya sob, tar juga tau) karya Syaikh Taqy disebutkan bahwa Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syari’ah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh ditangani kaum muslimin. Trus apa Darul kufur? Darul Kufur ya yang selain itu lha, gitu aja koq rephot! Hi hi hi. Ibnu Rajab al-Hanbali secara khusus membahas definisi hijrah dalan fath al-bari, beliau menulis sebagaimana berikut, eh gak ding, soalnya beliau ga bisa bahasa Indonesia. Maksudnya, terjemahannya gini nih: Asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Hijrah dalam as-sunnah secara mutlak dimaknai: meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dar al-Islam karena ingin mempeljari dan mengamalkan Islam. Jadi, hijrah adalah meninggalkan apa saja yang dilarang Alloh SWT, termasuk meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dar al-Islam. Nah, sekarang udah tau khan?!
Para perintis hijrah
Hijrah bukanlah perpindahan tempat tugas seorang pegawai dari satu tempat ke tempat lain yang lebih jauh dan bukan pula perpindahan seorang pencari nafkah dari daerah Gersang ke daerah subur… hijrah yang dilakukan adalah hijrahnya orang-orang yang telah hidup turun-temurun di kampung halaman sendiri dengan aman dan tentram, tetapi demi keyakinan aqidah agamanya, merka meninggalkan segala yang dimilikinya dan ikhlas mengorbankan semua kepentingan dan harta bendanya. Mereka sadar, di tengah jalan mereka mungkin dirampok, ditodong, bahkan mungkin pula akan direnggut nyawanya. Sementara itu, masa depan yang mereka impikanpun belum dapat dibayangkan dengan jelas. Hanya keyakinan, benar sobat, hanya keyakinan ang mantaf yang bisa membuat mereka demikian. Sekiranya hijrah itu boleh disebut “petualangan” tentu orang akan mengatakan: sungguh suatu petualangan yang nekad! Betapa tidak, mereka berangkat menempuh perjalan jauh membelah gurun sahara membawa anak dan istri dengan perasaan rela dan hati gembira! (So hard to think… isn’t it?). Ada sebuah kisah, Suhaib, yang menggamparkan kondisi tersbut. Ketka Suhaib hendak berangkat hijrah ke Madinah, orang-orang Qurais berkata kepadanya (dalam bahasa arab tentunya. He he): “Ketika baru datang ditengah-tengah kami engkau adalah seorang gelandangan yang hina dina dan mearat. Kemudian di tengah-tengah kami engkau menjadi seorang yang berharta dan dapat mencapai apa yang kau inginkan. Apakah sekarang engkau akan pergi membawa harta kekayaan mu?! Tidak, itu tidak boleh terjadi!” Suhaib menjawab: “Apakah kalau semua harta kekayaan ku kuserahkan kepada kalian, kalian akan membiarkan aku pergi?” Mereka menyahut: “Ya, tentu saja!” “Kalau begitu, sekarang juga seluruh harta kekayaanku kuserahkan kepada kalian…” Rosulullah saw menanggapi kisah Suhaib ini dengan ucapan: “Suhaib mendapatkan laba (keuntungan). (lihat di “Sirah” Ibnu Hisyam I/289). Demikianlah cara kaum muhajirin meninggalkan Makkah, ada rombongan dan ada perorangan, hingga Makkah hampir kosong dari orang-orang yang beriman.
Hijrah dan Asas Pembangunan Masyarakat Baru
Ummat Isalam bukanlah sebulongan ummat yang perhatiannya hanya tertuju pada bagaimana dapat hidup. Jauh dari itu, mereka adalah orang-orang yang memeiliki aqidah, yang memiliki dasar kehidupan dan memiliki cita-cita tertinggi yakni riedha Alloh SWT. Sejak Rosulullah saw menetap di Madinah perhatian beliau tercurah pada peletakan dasar-dasar yang sangat diperlukan untuk menegakkan tugas risalahna yaitu:
1. Memperkokoh hubungan ummat Islam dengan Tuhan-nya.
2. Memperkokoh hubungan intern ummat Islam, yaitu antara sesama kaum muslimin.
3. Mengatur hubungan antara ummat Islam dengan orang-orang asing yang tidak seagama dengan kaum muslimin.
Pembangunan mesjid nabawi, mesjid quba, mempersaudarakan muhajirin dan Anshar, mendamaikan Aus dan Khajraj dan lain sebagainya adalah manifesto politik dan sosial yang dilakukan Rosulullah SAW. Dalam kurun waktu 10 tahun Rosulullah membangun pondasi masyarakat Islam di Madinah hingga saat akhir hayat Beliau saw. Para sahabat melanjutkan kehidupan Islam dengan payung Daulah Islam, KHILAFAH, yang menerapkan system Islam secara komperhensif dalam segala aspek kehidupan. Hal itu terus berlanjut selama 14 abad hingga Islam menaungi 1/3 dunia dengan satu pemerintahan yang satu. 1924 M Daulah Islam ini di runtuhkan dengan konspirasi yang jahat rekayasa inggris dan kwanannya. Dan kaum muslimin tak lagi satu, namun terpecah-pecah dan lemah.
Tidak rindukah kaum muslimin dengan kebersamaan dalam satu pandangan dan satu perintah?! Come on bro! tidak rindukan dengan Islam rahmatan lil alamin?! Sudah saatnya sistem yang menyengsarakan ini kita tinggalkan, sudah saatnya kita buang sistem ke tempat sampah, jadikan sistem yang ada sekarang sebagai sampah peradaban yang menjadi pengalaman buruk yang tak perlu diingat.
Bring back islam! Bring Back the state! No more wait, I said NO MORE WAIT!
“Apakah hukum jahilliah yang kalian kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukimnya daripada hukum Alloh bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maidah [5]: 50)
Wallohu ‘alam bisshowab.